Artikel
Ia Datang untuk Menggenapi Nubuat
Bagian 2 dari 2
Pendeta Dr. John C. Lawrenz
Pertama kali disampaikan dalam sebuah simposium di Dr. Martin Luther College, 1993 · Bagian 1 · Bagian 2
Kami percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita. Allah dalam nubuat adalah Allah yang mendefinisikan diri-Nya sendiri, “AKU ADALAH AKU”. Dengan demikian, Dialah “TUHAN [Ibr. Yahweh], Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman” (Kel. 34:6-7). Perjanjian Lama membuktikan hal ini. Pengampunan, hidup, dan keselamatan muncul di Israel semata-mata karena kasih karunia, meskipun kegagalan dan kemurtadan ada di mana-mana. Para ahli waris bapa-bapa leluhur memperoleh warisan mereka secara tak terduga. Ishak lahir dari orang tua yang telah melewati usia untuk beranak (Ibr. 11:11). Yakub adalah anak kembar yang lebih muda (Kej. 25:23). Yehuda adalah anak keempat (Kej. 29:35) dan seorang yang hidup sembarangan (Kej. 38). Ahli waris Yehuda adalah keturunan dari hubungan sumbang (Kej. 38:30). Dalam satu peristiwa sejarah demi peristiwa sejarah lainnya kita melihat prinsip soli Deo gloria. Pembebasan Israel dari Mesir oleh Allah mengikuti suatu rencana yang hanya dipercayai oleh Allah sendiri. Israel bersungut-sungut, Musa menyerah, tetapi Allah tetap berpegang pada rencana-Nya (Kel. 5). Demikian pula, kemenangan besar pertama Yosua di Kanaan, yaitu perebutan Yerikho, mengikuti rencana pertempuran yang bertentangan dengan kearifan militer yang lazim (Yos. 6). Rencana itu menuntut kepercayaan yang melampaui akal. Israel harus meruntuhkan tembok-tembok kota itu dengan sorak-sorai setelah berjalan mengelilingi kota itu dalam keheningan sekali sehari selama enam hari dan tujuh kali pada hari ketujuh. Namun, rencana itu berhasil. Pujian atas kemenangan Israel atas Yerikho 100% menjadi milik TUHAN. “Kemenangan yang direbut dari ambang kekalahan” lainnya, seperti kekalahan Sanherib pada zaman Raja Hizkia (2Raj. 19), mengantisipasi tindakan-tindakan kasih karunia dan penghakiman yang universal, yang membayangkan kedatangan pertama dan kedua Tuhan kita Yesus Kristus. Keselamatan hanya oleh kasih karunia adalah tema surat-surat Paulus, khususnya surat Roma dan Galatia.
Penghakiman menjadi bagian Israel ketika Israel menyingkirkan kasih karunia. Pikirkanlah tentang tentara Israel di Horma. TUHAN telah menjatuhkan hukuman kepada umat-Nya untuk mengembara selama empat puluh tahun karena mereka menolak berperang di pihak TUHAN untuk menaklukkan Kanaan. Ketika mereka berubah pikiran, mereka dikalahkan dengan telak (Bil. 14:44-45). Pikirkanlah tentang penggunaan tabut yang kudus secara menghujat sebagai jimat pembawa keberuntungan oleh anak-anak Eli (1Sam. 4). Hal itu berujung pada kehancuran tempat kudus yang pertama di Silo (Yer. 7:12-14). Pikirkanlah bagaimana Yehuda yang murtad menganggap Yerusalem dan Bait Allah tidak dapat diganggu gugat pada zaman Yeremia (Yer. 4:10; 8:11), dan bagaimana Yehezkiel dalam suatu penglihatan menyaksikan kemuliaan Allah meninggalkan rumah Allah (9:3; 10:18; 11:23).
Kami percaya kepada Yesus Kristus… yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria. Kelahiran tampil sebagai gerbang keselamatan di Taman Eden. Di sana Allah menjanjikan berakhirnya tirani dosa dan pencipta dosa melalui keturunan seorang perempuan. Injil yang pertama, Kejadian 3:15, sungguh luar biasa. TUHAN membingkai pesan-Nya dalam bahasa yang sepenuhnya sesuai dengan dunia Adam dan Hawa. Seandainya TUHAN menggunakan istilah-istilah seperti Betlehem, Kalvari, kubur Yusuf, atau bahkan Yesus, kata-kata ini hanya akan menjadi bunyi belaka bagi Adam dan Hawa. Namun, pagutan ular dan menginjak kepala ular adalah pengalaman yang akan dihadapi Adam di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa akan melihat kuasa bisa ular yang mematikan, meskipun tidak selalu berakibat maut. Pada saat yang sama mereka belajar bagaimana pukulan yang meremukkan kepala mampu menghentikan seekor ular seketika saat ia sedang menjalar. Dengan demikian Kejadian 3:15 menyerupai sebagian besar nubuat Perjanjian Lama. Allah menggunakan istilah dan konsep yang dapat dipahami orang pada zaman mereka, sambil mengetahui sepenuhnya bahwa mata iman akan melihat wujud yang sebenarnya ketika akhirnya wujud itu datang.
Selama beberapa generasi kelahiran menjadi bukti nyata janji Allah. Melalui keturunan Abraham semua bangsa di bumi akan diberkati (Kej. 12:3). Allah memberi tahu Daud bahwa seorang keturunan dalam garis keluarganya akan menggantikan keinginan Daud untuk membangun rumah ibadah bagi TUHAN (2Sam. 7:11-16). Taruk Yesaya (11:1) dari tunggul Isai yang mati di Yehuda adalah anak ajaib yang dinubuatkan Yesaya (9:5-6) dan anak sang anak dara yang ia lihat dari jauh (7:14). Mikha mengatakan bahwa anak ini akan menjadi seorang bayi di Betlehem (5:1). Karena pentingnya hal ini, kelahiran merupakan berkat tertinggi bagi seorang perempuan. Sebaliknya, kemandulan adalah salib yang harus dipikul. Bersama kelahiran datanglah pengharapan bahwa penawar maut sudah dekat. Benang emas yang terentang di seluruh Perjanjian Lama adalah bahwa Allah sejak kekekalan akan mengandungkan seorang Anak untuk menyelamatkan umat manusia. Hawa memercayainya. Yesaya menjanjikannya. Maria mengalaminya.
Bahkan Kemah Suci, dan penggantinya, Bait Allah, memberitakan inkarnasi. Allah ada di mana-mana, seperti dinyatakan Salomo dalam doa pentahbisannya (1Raj. 8:27). Namun, Allah memberi tahu umat-Nya bahwa akan ada juga suatu tempat tertentu, yang ditetapkan oleh-Nya, di mana Ia akan menyatakan nama-Nya (Ul. 12:5). Kemah Suci, sebuah kemah, melayani tujuan ini sejak zaman Musa sampai kematian Eli. Kemah telah dihubungkan dengan janji Allah sejak Air Bah. Pada waktu itu Nuh secara nubuat memandang jauh ke masa depan. Ia melihat berkat Allah berdiam di kemah-kemah Sem, yang di bawah naungannya cabang-cabang umat manusia lainnya akan mendapat berkat (Kej. 9:27).
Tempat kudus dari zaman Salomo sampai Kristus adalah sebuah bangunan batu, yaitu Bait Allah di Yerusalem. Baik berupa kemah yang dapat dipindahkan maupun bangunan yang tetap, tempat kudus itu memiliki pelataran untuk pembasuhan dan persembahan korban. Sebagai bagian dari pernyataan penuh kasih karunia-Nya dalam Perjanjian Baru, Yesus menetapkan sakramen-sakramen, yang satu adalah pembasuhan dan yang lain adalah tubuh dan darah-Nya. Yesus membandingkan tubuh-Nya dengan tempat kudus (Yoh. 2:19-21), dan dituduh oleh orang Yahudi mengancam akan merobohkan Bait Allah di Yerusalem (Mrk. 14:58). Dalam pasal pertama tulisannya Rasul Yohanes berbicara tentang Firman yang untuk sementara waktu “berkemah” di antara umat-Nya (Yoh. 1:14). Terbelahnya tabir Bait Allah pada saat kematian Yesus menandakan berakhirnya tempat kudus duniawi sebagai lambang kediaman Allah (bandingkan Mat. 27:51 dan Ibr. 10:20).
Kita bahkan dapat memandang perabotan di dalam tempat kudus sebagai sesuatu yang sarat makna. Ruang Kudus di dalam tempat kudus memiliki sebuah kandil dan sebuah meja roti. Yesus menyebut diri-Nya roti hidup (Yoh. 6:31-35) dan terang dunia (Yoh. 8:12; 9:5). Tabut perjanjian di dalam Ruang Mahakudus berisi tiga benda: manna, dua loh batu, dan tongkat Harun (Ibr. 9:4). Buli-buli berisi manna mengingatkan akan pemeliharaan Allah di padang gurun. Pada loh-loh batu itu tertulis Firman Allah yang diberikan oleh Allah kepada nabi-Nya, Musa. Tongkat Harun ada di sana karena Allah telah memakainya untuk meneguhkan keabsahan Harun sebagai orang yang dipilih untuk mempersembahkan korban karena dosa. Yesus adalah Kristus, “Yang Diurapi”. Karena itu, Dialah Raja yang memelihara, Firman yang dinubuatkan, dan Dia yang menyerahkan korban pendamaian yang memadai sebagai Imam Besar yang sempurna bagi umat manusia. Di atas tutup tabut itulah darah pendamaian dipercikkan. Melalui darah Yesus, Allah dan orang berdosa diperdamaikan (Rm. 3:25; 5:10).
Kami percaya kepada Yesus Kristus… yang… menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Tidak ada satu pun dalam nubuat yang menyamai apa yang dinyatakan Roh Kudus kepada Israel tentang sengsara Kristus. Mazmur 41 dan 55 berbicara tentang orang yang mengkhianati-Nya. Yesaya 53 menggambarkan betapa dalamnya kehinaan Kristus dalam kematian. Mazmur 22 memberikan kepada kita kata-kata yang persis diucapkan Yesus ketika Ia menderita siksaan neraka di kayu salib.
Kepada nubuat-nubuat langsung ini harus ditambahkan gambaran nubuat yang kaya dalam korban-korban persembahan. Setiap anak domba, kambing, atau lembu jantan yang darahnya tertumpah mengantisipasi korban Yesus. Sejumlah tindakan ditetapkan dalam ritual korban Perjanjian Lama. Persembahan itu harus dibawa ke tempat yang ditetapkan Allah. Persembahan itu dijadikan pengganti secara perwakilan melalui penumpangan tangan. Korban menuntut kematian. Korban menekankan percikan darah untuk pendamaian. Sebagian darinya dimakan api. Makna tindakan-tindakan ini sangat penting. Yesus, dan hanya Yesus, adalah korban pilihan Allah. Dialah pengganti kita. Tidak ada yang kurang dari kematian-Nya yang dapat mencukupi sebagai pembayaran dosa. Darah-Nya menudungi kita. Tentang Yesus, Paulus berkata, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Rm. 3:25) dan “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2).
Korban-korban darah Perjanjian Lama sebenarnya tidak membayar dosa. Korban-korban itu dipersembahkan untuk dosa-dosa yang tidak disengaja, yang dilakukan oleh orang-orang percaya dalam saat kelemahan (Im. 4:1). Korban-korban dibawa oleh orang-orang percaya yang membutuhkan kepastian bahwa dosa-dosa kelemahan mereka tidak akan memisahkan mereka dari Allah atau dari jemaah Israel.
Keempat korban darah dibahas dalam Imamat pasal 1 sampai 7. Persembahan korban biasanya dibawa secara berpasangan. Korban penghapus dosa mengakui bahwa suatu dosa tertentu mengancam hubungan antara orang berdosa dan Allah. Korban ini biasanya disertai korban bakaran. Karena dibakar seluruhnya, korban bakaran mewartakan pengampunan total yang ditawarkan Allah. Korban penebus salah dibawa ketika seseorang mengakui bahwa ia telah berdosa terhadap sesamanya. Korban ini biasanya dipasangkan dengan korban keselamatan, yang sebagian dibakar di atas mezbah dan sebagian lagi dinikmati bersama dalam suatu perjamuan pendamaian. Setiap anak domba, kambing, atau lembu jantan yang darahnya tertumpah mengantisipasi korban Yesus. Hari Pendamaian Agung digenapi ketika Yesus memercikkan darah-Nya yang kudus dan mahal untuk memuaskan, sekali untuk selama-lamanya, keadilan Allah yang kudus, yang sekaligus ingin menyatakan kasih-Nya yang membenarkan. “Kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibr. 10:10).
Kami percaya kepada Yesus Kristus… yang… turun ke dalam kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa, dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Peninggian Yesus, Dia yang dengan sukarela menyerahkan segala-galanya untuk menyelamatkan umat manusia, dibayangkan secara luas dalam kitab para nabi. Hampir tanpa kecuali mereka menubuatkan suatu pembalikan keadaan pada hari-hari terakhir, sebagian dalam bahasa yang sederhana dan lugas, sebagian lagi dalam penglihatan-penglihatan yang spektakuler. Israel yang direndahkan akan dipulihkan. Tulang-tulang kering akan hidup (Yeh. 37). Peperangan akan berhenti (Yes. 2:4; Mi. 3:4). Maut akan kehilangan sengatnya (Hos. 13:14, dikutip dalam 1Kor. 15:55). Tawanan-tawanan akan ditawan (Mzm. 68:19, dikutip dalam Ef. 4:8). TUHAN akan naik ke tempat tinggi (Mzm. 68:19; Kis. 1:11). Allah akan memerintah di tengah-tengah umat-Nya (Za. 9:9-13; Mat. 21:5). Mereka yang menjadi milik TUHAN akan mendapat perhentian (Yer. 50:34; Mat. 11:28).
Tinjauan tentang nubuat dan tema-tema nubuat di atas hanyalah sebuah tinjauan, tetapi tinjauan ini memberikan gambaran betapa luasnya Tuhan Yesus Kristus dinubuatkan dan dibayangkan. Beberapa hal yang disebutkan di atas adalah nubuat yang diidentifikasi sebagai nubuat oleh Perjanjian Baru. Sebagian lagi tidak. Paragraf-paragraf berikut ditujukan kepada yang tidak diidentifikasi itu. Sejauh mana seorang penafsir dapat melangkah dalam melihat Kristus di dalam Perjanjian Lama?
Allah memberikan kepada Israel pelajaran yang menyeluruh tentang perhentian. Di dalam Sepuluh Perintah tertanam perintah ilahi untuk beristirahat pada hari ketujuh (Kel. 20:8-11; Ul. 5:12-15). Tahun ketujuh adalah tahun perhentian bagi ladang, kebun buah-buahan, dan kebun anggur (Im. 25:1-7). Tahun itu juga merupakan waktu untuk membebaskan budak dan menghapuskan utang (Kel. 21:2; Ul. 15:1-15). Pada tahun sesudah setiap tahun Sabat yang ketujuh, yaitu pada tahun kelima puluh, tanah milik pusaka kembali kepada pemiliknya (Im. 25:13). Sabat berarti perhentian. Yesus menggenapi Sabat, menurut surat Ibrani (4:1-13), dengan karunia hidup kekal.
Namun, bagaimana dengan perhentian pada bulan ketujuh? Apakah sah untuk melihat dalam hari-hari raya bulan ketujuh perhentian yang sama dengan yang dibicarakan dalam surat Ibrani?
Metode kita adalah bertolak dari apa yang kita ketahui untuk sampai pada jawaban atas pertanyaan kita. Kita mulai dengan Paskah, hari raya besar pada bulan pertama. Perjanjian Baru membahas hari raya Paskah dengan cukup terperinci sebagai nubuat yang telah digenapi. Paulus menyebut Yesus sebagai anak domba Paskah yang telah disembelih (1Kor. 5:7). Rasul Yohanes mencatat bahwa kematian Yesus terjadi pada hari raya Paskah (Yoh. 13:1). Pada dua hari berturut-turut Yohanes Pembaptis mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29,36). Dengan kata-kata yang menggemakan gambaran anak domba Paskah dalam Keluaran 12:5, Petrus berkata, “kamu telah ditebus … dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1Ptr. 1:18-19). Dengan mengingat persembahan unjukan berkas hasil pertama panen gandum di hadapan TUHAN pada hari sesudah Sabat setelah Paskah (Im. 23:9-14), Paulus menyebut Yesus “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor. 15:20). Paulus mengantisipasi bahwa kebangkitan Kristus akan memampukan mereka yang menjadi milik-Nya untuk bangkit juga (1Kor. 15:23). Lagi pula, Yesus merayakan Paskah bersama murid-murid-Nya pada Kamis Putih dengan cara yang hanya dapat dipahami sebagai penggenapan. Roti dan anggur perjamuan Paskah dikuduskan oleh Yesus untuk menjadi tanda-tanda perjanjian baru. Makanan Paskah ini akan menjadi tanda-tanda lahiriah yang di dalam, bersama, dan di bawahnya orang percaya menerima tubuh dan darah yang dipersembahkan untuk pengampunan dosa umat manusia. Selain itu, Paskah adalah hari raya kemenangan. Korban Paskah di Mesir telah menghalau malaikat maut. Korban itu menandai pembebasan dari perbudakan. Kematian Yesus sebagai korban Paskah yang digenapi mengantisipasi kekalahan maut pada hari ketiga. Kebangkitan Kristus memungkinkan pernyataan Allah tentang kebebasan dari dosa. Yesus “telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm. 4:25).
Paskah adalah yang pertama dari tiga hari raya ziarah yang mewajibkan setiap laki-laki dewasa di Israel menghadap TUHAN (Kel. 23:14-17). Hari raya ini begitu penting sehingga para ayah Ibrani diperintahkan oleh Allah untuk mengajar anak-anak mereka tentang maknanya (Kel. 12:26-27). Setiap tahun para ayah menceritakan kepada anak-anak mereka bagaimana Allah telah memimpin Musa dan Israel keluar dari perbudakan di Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Yesus, Yohanes Pembaptis, dan Paulus mempelajari pelajaran-pelajaran ini dengan baik sejak masa kanak-kanak. Mereka juga belajar tentang hari raya ziarah, lima puluh hari sesudah Paskah, yang menandai berakhirnya panen gandum tahunan (Im. 23:15-22; Bil. 28:26-29) dan yang mengenang pemberian Sepuluh Perintah di Gunung Sinai.12 Para rasul merayakan penggenapannya tujuh minggu setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Pada hari Pentakosta yang bersejarah itu Roh Kudus mencurahkan kuasa-Nya atas umat Allah yang telah dilahirkan kembali, bukan umat di bawah hukum Taurat Perjanjian Lama, melainkan Israel baru yang telah dimerdekakan oleh Injil.
Kitab Suci para rasul mengajarkan bahwa Paskah dan Pentakosta digenapi dalam peristiwa-peristiwa bersejarah yang membawa kedatangan Kristus yang pertama kepada puncaknya yang penuh kemenangan. Tetapi bagaimana dengan hari raya ziarah yang ketiga, Hari Raya Pondok Daun, yang jatuh pada pertengahan bulan ketujuh tahun Yahudi Perjanjian Lama? Bagaimana dengan perayaan selama seminggu ini, yang pada zaman Yesus dikenal sebagai “hari raya besar”?13 Dan bagaimana dengan hari kudus yang membuka bulan ketujuh, yaitu Hari Raya Peniupan Serunai? Tidak satu pun dari hari-hari itu dijelaskan secara eksplisit dalam konteks penggenapan, meskipun Hari Pendamaian, yang jatuh di antara keduanya pada bulan ketujuh, jelas dijelaskan demikian.
Apakah hari-hari raya bulan ketujuh ini dalam konteks Perjanjian Lama? Hari Raya Peniupan Serunai adalah hari raya bulan baru yang utama dalam setahun. Hari raya ini membuka bulan ketujuh. Pada hari itu para imam meniup serunai mereka (Im. 23:23-25; Bil. 29:1-6). Hari Pendamaian, sepuluh hari kemudian, adalah hari berpuasa dan merendahkan diri bagi umat (Im. 16:29; 23:27-32). Pada hari ini imam besar Yahudi menanggalkan pakaian keimamannya yang indah dan masuk ke Ruang Mahakudus dengan membawa darah korban untuk mengadakan pendamaian bagi dosa-dosanya sendiri dan dosa-dosa Israel (Im. 16; 23:26-32). Sebaliknya, Hari Raya Pondok Daun adalah masa perayaan selama seminggu yang dimulai pada bulan purnama bulan ketujuh. Hari raya ini menandai pengumpulan buah-buahan musim panas yang telah matang meskipun tidak ada hujan selama enam bulan sebelumnya. Hari Raya Pondok Daun adalah waktu untuk keluar dari rumah keluarga dan tinggal di pondok-pondok sementara. Tempat-tempat tinggal darurat ini mengingatkan akan pondok-pondok sementara yang digunakan Israel selama empat puluh tahun pengembaraan di padang gurun sebelum Israel masuk ke Tanah Perjanjian (Im. 23:33-43). Hari Raya Pondok Daun adalah waktu bagi raja-raja Perjanjian Lama untuk membacakan hukum Taurat Musa dan menahbiskan hal-hal yang baru (2Taw. 5:3; Neh. 8:14-18). Nabi Zakharia menutup penglihatannya tentang masa depan dengan gambaran orang-orang dari segala bangsa yang berduyun-duyun ke Yerusalem untuk merayakan Hari Raya Pondok Daun (14:16-21).
Perjanjian Baru menyatakan kebenaran-kebenaran yang mengingatkan kita akan hari-hari raya bulan ketujuh, meskipun tidak satu pun dari kebenaran itu secara eksplisit membuat hubungan tersebut. Warisan yang dijanjikan kepada kita tersimpan di sorga (1Ptr. 1:3-4). Kita diberi tahu bahwa perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan dalam iman sepanjang perjalanan menuju “tanah perjanjian” kita akan menyertai kita. Di sorga kita akan menikmati buah dari jerih lelah kita yang digerakkan oleh Kristus. Yesus menyebutnya buah yang tetap: “buahmu itu tetap” (Yoh. 15:16). Pemikiran ini digemakan dalam kitab Wahyu. Di sana Yohanes memberi tahu kita bahwa perbuatan orang-orang kudus menyertai mereka ke dalam kekekalan (14:13). Namun, kita akan menerima warisan yang dijanjikan itu hanya jika kita menyangkal diri kita dan apa yang telah kita lakukan (Mat. 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23) dan semata-mata bersandar pada darah pendamaian Yesus (1Yoh. 2:2; 4:10; juga Rm. 3:25; Ibr. 2:17). Kata-kata yang diucapkan orang-orang kudus pada Hari Terakhir tidak akan berisi puji-pujian bagi diri sendiri (Mat. 25:37-39). Pengharapan orang-orang kudus adalah darah yang dicurahkan oleh Yesus. Darah ini dibawa kepada Bapa di tempat-Nya yang mahakudus oleh Dia yang adalah imam sekaligus korban (Ibr. 9:12,24). Penulis surat Ibrani menunjukkan bahwa pendamaian oleh Kristus telah dilaksanakan pada kedatangan-Nya yang pertama, lalu mengalihkan dampak tindakan pendamaian ini kepada penghakiman terakhir: “sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia” (9:27-28). Penghakiman yang membenarkan itu akan didahului oleh bunyi sangkakala (1Kor. 15:52; 1Tes. 4:16) dan akan diikuti oleh masa perayaan yang kekal. Ketika Kristus datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, Ia akan membuka serangkaian peristiwa yang akan membawa perhentian bagi mereka yang semasa hidupnya percaya akan kuasa kematian dan kebangkitan-Nya. Sebagai Raja segala raja, Ia akan menyatakan makna seluruh sejarah umat manusia. Pada hari itu Ia akan memperbarui langit dan bumi serta segala isinya.
Tidak dapatkah dikatakan bahwa hari-hari kudus bulan ketujuh dalam penanggalan Perjanjian Lama sama bersifat nubuatnya seperti Paskah dan Pentakosta? Tentu saja dapat! Hari-hari raya bulan ketujuh mengantisipasi perhentian sempurna yang dinantikan orang percaya pada kedatangan Kristus yang kedua. Hari-hari raya itu melakukannya dengan cara yang sama seperti Paskah dan Pentakosta dahulu menggenapi peristiwa-peristiwa yang diantisipasi dalam pewahyuan nubuat berkenaan dengan kedatangan-Nya yang pertama. Allah menggunakan masa-masa yang mengapit tahun pertanian di Kanaan untuk mengingatkan umat-Nya akan tindakan-tindakan kasih-Nya di masa lampau. Hal ini kita ketahui. Secara sejajar Allah membentuk panen musim semi dan panen musim gugur untuk mempersiapkan umat Perjanjian Lama-Nya bagi masa depan mereka yang mulia di dalam Kristus. Dalam proses mengembangkan makna bagi ketiga hari raya bulan ketujuh, tidak ada satu ayat Kitab Suci pun yang dibatalkan. Kitab Suci tidak dibatalkan.
Jika kita berhati-hati, jalan terbuka bagi kita untuk menikmati kepenuhan Kristus di dalam Perjanjian Lama. Pada saat yang sama, antusiasme kita harus diimbangi dengan kesadaran bahwa Gereja Kristen telah menderita kerugian besar akibat penafsiran yang ceroboh.
Gereja Timur sangat dipengaruhi oleh tokoh gereja abad ketiga, Origenes, dan mazhab penafsiran yang berpusat di Aleksandria, Mesir. Origenes menyesuaikan Kitab Suci dengan pendapat-pendapat kaum terpelajar pada zamannya. Ia dapat dianggap sebagai bapa dari segala upaya modern untuk memaksa Kitab Suci tunduk kepada hikmat manusia. Origenes merasa tersandung oleh Kitab Suci ketika bagian-bagiannya menggambarkan kehidupan apa adanya, lengkap dengan segala cacat celanya. Ia tidak sabar terhadap kontradiksi-kontradiksi yang tampak dalam teks. Baik realisme yang kasar maupun pelaporan yang ceroboh dianggapnya tidak layak bagi pikiran Allah. Akibatnya, Origenes meyakinkan dirinya dan para pengikutnya untuk melihat makna yang lebih dalam di balik pernyataan-pernyataan Kitab Suci yang sederhana. Tak lama kemudian menjadi lazim untuk melihat beberapa lapis makna tersembunyi di balik setiap bagian Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Lama. Makna Kitab Suci yang sederhana dan harfiah disingkirkan demi penafsiran-penafsiran yang simbolis, kiasan, moralistis, dan mistis.
Sebagian dari hal ini merembes ke dalam Gereja Barat. Namun, bukan filsafat yang menggelincirkan penafsiran di sana, melainkan tradisi. Para tokoh gereja yang sibuk dan terbebani makin lama makin bersandar pada pendapat-pendapat saleh. Pendapat-pendapat ini dihimpun oleh otoritas-otoritas gerejawi yang dihormati dan diwariskan. Tradisi berkembang menjadi Hukum Kanonik setelah stabilitas politik yang ditegakkan Kekaisaran Romawi runtuh dan kekosongan yang ditimbulkannya diisi oleh kekacauan dan kebodohan Abad Pertengahan. Pada zaman Luther, Kitab Suci telah menjadi tawanan gereja. Gereja abad pertengahan memiliki ajaran-ajaran tradisionalnya sendiri. Gereja itu pergi kepada Alkitab untuk mencari bukti, alih-alih sebaliknya.
Luther mengarahkan mata orang percaya kepada otoritas Kitab Suci itu sendiri. Hanya Alkitab yang memiliki kuasa untuk menjelaskan dirinya sendiri, demikian ditegaskan Luther. Makna sederhana kata-kata dalam konteksnya harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena gereja yang sejati adalah milik mereka yang dikenyangkan oleh Firman dan Sakramen, Luther mengharapkan hati yang telah dikenyangkan dengan baik akan dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengakui kebenaran dengan tepat dan bijaksana. Kaum awam yang dipersenjatai dengan Kitab Suci, menurut keyakinannya, lebih berkuasa daripada paus dan konsili. Dengan segala cara Luther membimbing orang-orang yang membaca Alkitab mereka kembali kepada Tuhan Yesus Kristus, bukan kepada hikmat manusia atau tradisi manusia.
Di mana Luther berdiri, di situlah kita harus berdiri. Kita tidak boleh melangkah melampaui Luther dengan menempa Kitab Suci menjadi suatu bangunan dogmatis yang sistematis dan diselaraskan secara paksa. Hal ini akan menghasilkan ortodoksisme yang mati. Kita juga tidak boleh membiarkan keinginan saleh untuk memperbaiki orang dan memaksakan persekutuan Kristen yang secara lahiriah lebih baik mengalihkan kita dari tugas berat meneliti kata-kata dan konteks Kitab Suci. Hal ini akan menjadi pietisme yang hampa. Kita juga tidak boleh berjalan seirama dengan murid-murid Origenes di zaman modern. Mereka mendemitologisasi dan membedah apa yang telah Allah nyatakan sejak lama. Alih-alih memberi makna kepada Alkitab, mereka membiarkan Firman itu kosong. Kitab Suci juga tidak boleh dianggap sebagai “seleksi alam” religius. Kebenaran Allah tidak berevolusi dari coretan-coretan primitif yang tidak saling berhubungan menjadi sebuah kitab tebal yang masih memerlukan penyuntingan. Di atas segalanya, kita yang adalah ahli waris warisan konfesional yang konservatif tidak boleh, dengan gaya abad pertengahan, mengikuti apa yang dikatakan para tokoh gereja kita, benar atau salah, karena kita terlalu sibuk, terlalu tertekan, atau terlalu minim pengetahuan.
Sejarah gereja dapat memberi kita alasan yang sangat baik untuk menghargai tempat unik yang ditempati nubuat yang telah digenapi di dalam rencana Allah. Menemukan Kristus di dalam Perjanjian Lama adalah ortodoks. Namun, penyelidikan cermat seumur hidup tidak akan menghasilkan paket-paket dogmatis yang sudah terbungkus rapi. Menemukan Kristus di dalam Perjanjian Lama menuntut keterampilan seorang penafsir historis-eksegetis yang baik. Meskipun demikian, analisis kita yang paling cermat sekalipun tidak akan dapat menjelaskan karya Roh yang penuh rahasia, yang merobohkan akal budi dan membangun iman untuk hidup. Menemukan Kristus yang dinyatakan secara konsisten sepanjang rentang 1.500 tahun penuh yang memisahkan nabi Musa dan rasul Yohanes membuat hampir mustahil untuk mengangkat hikmat seorang manusia atau satu generasi ke kedudukan hakim dan juri atas Kitab Suci. Penemuan kita akan Kristus di dalam Perjanjian Lama juga tidak akan mengizinkan kita mengkultuskan tradisi-tradisi gereja yang kelihatan dan para tokohnya. Tuhan Yesus adalah Firman terakhir bagi gereja, bukan sebaliknya.
Sungguh, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana diantisipasi oleh para nabi dan diberitakan oleh para rasul, adalah segala-galanya bagi kita!
Catatan
12 Pentakosta sebagai hari peringatan pemberian Sepuluh Perintah merupakan bagian dari tradisi Yahudi. Israel menyelesaikan perjalanan dari Mesir ke Sinai pada bulan ketiga, “pada hari itu juga” (Kel. 19:1). Paskah terjadi pada pertengahan bulan pertama, sehingga tersisa dua minggu. Kepada dua minggu itu tambahkan 28 atau 29 hari bulan kedua. Kemudian, kepada “hari itu juga” yang membuka bulan ketiga, tambahkan tiga hari persiapan (Kel. 19:15). Jika pendirian perkemahan sebelum persiapan itu (Kel. 19:2) memakan empat hari tambahan, maka jumlah hari antara Paskah pertama di Mesir dan pemberian Sepuluh Perintah adalah 50 hari (14+29+4+3).
13 Sejarawan Yahudi Yosefus menganggap Hari Raya Pondok Daun sebagai hari raya Ibrani yang paling kudus dan paling besar, Antiquities VIII, iv, 1. Yesus menghormati hari raya ini (Yoh. 7), yang memiliki lebih banyak korban daripada hari raya lainnya (Bil. 29).
Pendeta Dr. John C. Lawrenz (1943–2024) memulai pelayanannya sebagai pendeta Jemaat Lutheran Zion di Gainesville, Florida. Selanjutnya ia melayani sebagai rektor Michigan Lutheran Seminary dan Dr. Martin Luther College, serta sebagai profesor Perjanjian Lama di Wisconsin Lutheran Seminary. Di Brandeis University ia meraih gelar magister dan doktor dalam bidang bahasa asing, disusul gelar PhD dalam studi Mediterania. Ia mengakhiri pelayanannya sebagai rektor pendiri Asia Lutheran Seminary di Hong Kong, tempat ia juga mengajar. Ia ikut serta dalam beberapa penggalian arkeologi penting di Israel, melakukan perjalanan ke Israel bersama para mahasiswanya dalam bidang bahasa Ibrani dan Perjanjian Lama, menjalani masa cuti sabatikal di berbagai ladang misi dunia, dan merupakan pembicara yang populer di seluruh lingkungan Konferensi Lutheran Injili Konfesional (CELC). Dr. Lawrenz dipanggil pulang ke dalam kemuliaan pada tanggal 22 September 2024.
Kutipan Alkitab diambil dari Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.

0 Komentar